Feelings exist just like an illusion Firing neurotransmitters in the brain and nervous system Regulated by endocrine system Memories exist just like a shadow Experienced by our senses Learned through experiences So does it is decaying through times Both are both, relative We are deceived by our own body Because none is real It is all just perception What is real and what is not Not yours to judge Maybe your brain is deceiving you Just like it deceives myself Brisbane. 14-3-2012. 00:01.
Illusion and Shadow
Posted in midnight thoughts, poems, random thoughts and quotes on 13/03/2012 by angin ribut di udaraTwo sides or Continuum
Posted in emotions, hopes, midnight thoughts, random thoughts on 01/02/2012 by angin ribut di udaraI’m preparing myself to say goodbye to my life as an undergrad student, as I (hopefully) will graduate this July and September. Honestly, this is past the point of where I prepared myself with. I have no plans of future, let alone past graduation. I totally have no idea about my future, or where am I going. On the other hand, I don’t want to disappoint the people who have been confiding in me all these times. I cannot afford another disappointment from people who love me, but I cannot accept another greatness expected from me.
Life has always been like a coin, there are two sides, and yet, you can only choose one, not both. However, there’s always a debate of continuum vs categorical, respectively. I have no idea what this is. Is this simply a premonition from I-don’t-know-what? Or is it just a troubled process of decision making? Or there’s an abnormality in my brain that damaged my ability to determine my own future like I used to do? I don’t know. I cannot decided, cannot think, cannot give up, cannot continue. I am trapped within my doubts, about myself, the world, and the future.
Two sides or continuum, you decide.
Dream
Posted in hopes, midnight thoughts, poems, Uncategorized on 01/02/2012 by angin ribut di udarachills run down my spine
as i look at the greatness i have yet to prove
maybe one day i will be
or it may not be
or it just a mere dream
or illusion to my defective thought
i have yet to wake
i have yet to give my all
for the sake of knowledge that i’ve been longing for since i can’t remember when
for everything that existed only in my brain
from firing neurons and endocrines
one day, i’ll find the answers of my journey
one day, i’ll be the one i wanted myself to be
the one with greatness and brilliance.
Maybe. I’m just asking a question.
Posted in Uncategorized on 11/11/2011 by angin ribut di udaraI’ve stopped believe in love. I have given up to giving myself to the people i used to love. What for? Love has betrayed me so many times before i wrote this. I don’t know, maybe i’m not suited for loving others.
I once gave all of me to someone i love, it was once reciprocal, but not anymore. Isn’t a relationship should be reciprocal to be fair? I don’t know the answer. I’m asking the question myself.
To love someone in a limited span of time is useless. For now, i’d rather be lonely all my life than experienced love in such short amount if time. It’s a silly proposition, but i personally don’t wanna give a fuck about that.
To love someone is to let yourself be weak, in order to get stronger. But i didn’t find myself grow strong when i love someone. I find myself grew weaker, and even weaker when i left, or when they left me.
Aforementioned, i’ve decided not to trust love and its’s companion. I want to seclude myself from those kind of things. To isolate myself, and see if i could make it like i did years ago.
Maybe, love only exists for those who pursue it wholeheartedly, unlike me. Or maybe it doesn’t exist at all, as it just a chemical reaction between hormones and oxytocin in our basal ganglia. I don’t which one is which, but all i know is i’m giving up on love.
Brisbane,
11-11-11
Posted in hopes, love on 17/10/2011 by angin ribut di udara
I miss you. I need you. You’re not there. Where should I seek?
Disappointed
Posted in Uncategorized on 13/10/2011 by angin ribut di udaraI’m kinda disappointed for the latest result. I know it is not my place to say this, but as an alumnus (or I’d rather say, an ex-member) who used to play during the glorious past, this is not a decent result for a team that played in the finals for 3 years in a row. Maybe the focus of the campus life has shifted from extra-curricular activities to the real academic activities. I shall say, the academic life back home is not as challenging as I am now, but it’s still ridiculous to lost like that. Honestly, I really am disappointed for the current human resource management. I think I was right not to confide, but as if there is any other options for me to choose. Sometimes cynicism really work, instead of the so-called positivity. I don’t really believe in positive psychology, it’s for the weak people. In order to succeed, someone has to undergo a really really really harsh situation. I know this is inappropriate for a soon-to-be psychologist like me to talk like this. But what if I don’t really want to be one? What if I just wanna be something else? What if I want to be nothing?
I hate the socioeconomic chains than is binding me onto my social and moral responsibilities. I’d rather born as nothing, and will rise on my own feet. With such background, I personally find it hard. I know I am not exceptional like my parents. That is why I’m not striving really hard. Ah, I don’t really want to give a damn.
Keluh dan Kesah: Jakarta
Posted in love, midnight thoughts, random thoughts on 08/10/2011 by angin ribut di udaraMalam ini, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan berkeluh kesah, serta bertanya pada asap kendaraan yang lewat di depan balkon unit sewaanku bersama dua orang kawanku. Berbincang tentang takdir dengan papan iklan yang terpampang di pinggiran jalan Coronation Drive, salah satu jalan arteri di Brisbane, kotaku tinggal saat ini. Tempatku berjibaku dengan akademis yang sangat menuntut. Suatu kota yang pernah membuatku kehilangan jati diri dan akal sehat. Kota yang teramat ku benci. Kota yang sempit dan rakus, menurutku. Suatu simbol dari kurangnya kehangatan dan ketulusan manusia. Dingin. Kota ini bukanlah kota penuh kehidupan dan cerita-cerita yang heboh. Brisbane adalah kota yang terlalu teratur dan rapih. Sampai muak aku melihat kekosongan identitasnya. Menurutku, penduduknya sangat dimanjakan oleh peraturan yang kelewat baik dan sangat terkontrol. Buatku, penduduk yang terlalu teratur itu layak dipanggil robot. Pergerakan manusia disini sangat teratur, layaknya mainan yang digerakkan oleh tangan tak terlihat yang mengontrol segalanya. Yang tidak punya kontrol atas diri. Diperbudak oleh keteraturan. Kota yang bertolak belakang dengan kota kelahiranku, Jakarta.
Kota yang sangat amburadul dan semrawut akibat tata kota yang sangat buruk karena digerus KKN para oknumnya. Juga, kota yang identitasnya bak gado-gado yang sudah diaduk, tidak jelas. Namun dibalik semua ketidakjelasan itu, tersimpan sebuah rasa yang khas. Kata para expatriate, Jakarta adalah ‘Big Durian‘, hate it, or love it. Saya, meskipun tidak begitu suka durian, tapi saya sangat cinta dengan Jakarta. Saya cinta Jakarta dengan segala kemacetannya. Saya cinta Jakarta dengan segala kejorokannya. Ketidakteraturan Jakarta adalah suatu hal yang saya rindukan ketika sedang tinggal di kota lain. Keberantakannya itulah yang membuatnya lebih hidup. Keluar-biasa padatnya pula yang membuatnya beraneka ragam. Dibalik segala kekurangannya, itulah kelebihan Jakarta, salah satu kota terpadat di dunia. Pusat dari kehidupan saya. Tempat saya lahir, tinggal, dan besar. Tempat yang dulunya tanpa pretensi, tapi semua itu berubah ketika negara api menyerang (ABAIKAN!!). Yang dulunya tanpa pretensi, nyaris tak ada batas antara yang berpunya dengan yang tidak. Semua larut dalam kebersamaan, lebur dalam satu: Jakarta. Kota yang ramah dan murah senyum, namun itu semua perlahan berubah. Tenggelam dalam kepicikan beragama. Curiga adalah hal pertama yang terbersit di pikiran ketika bertemu dengan orang yang berbeda latar belakang. Kemanakah perginya ketulusan kalian, wahai penghuni Jakarta? Apakah itu semua hilang tertelan gengsi demi pamer gadget terbaru? Nampaknya begitu, gengsi telah menjadi bagian utama dari hidup kalian, melebihi aspek lainnya. Self-centered. Ya, orang Jakarta sekarang sangatlah self-centered. Saya lebih suka menggunakan istilah self-centered daripada egois. Kenapa? Karena Ego, bersama dengan Superego dan Id adalah salah komponen pembentuk kepribadian menurut teori Psikoanalisa Freud, jadi daripada moral saya tercabik oleh penggunaan istilah yang salah, lebih baik saya pakai istilah lain yang lebih tepat.
Kata Ibu saya (yang juga seorang Psikolog), karakteristik suatu bangsa/kota dapat dilihat dari 3 aspek: perilaku berkendara di jalan, toilet umum, dan perilaku mengantri. Tidak usah saya sebutkan lagi seperti apa perilaku warga Jakarta dalam berlalu lintas, kalian tahu sendiri. Toilet umum? Kalau untuk yang satu ini, tergantung di mana toilet tersebut berada. Apakah itu di dalam sebuah shopping mall kelas atas, ataukah dalam lorong sebuah pasar tradisional di pinggiran kota, ataupun rest area di pinggir jalan tol. Tapi satu hal yang dapat saya simpulkan, sangat sedikit kesadaran masyarakat Jakarta untuk menjaga kebersihan toilet umum tersebut. Toilet yang berada di mall mungkin memang bersih dan wangi, karena ada cleaning service yang dibayar oleh developer mall tersebut untuk menjaga kebersihan toiletnya. Tapi kalau di pasar tradisional? Tidak usah saya sebutkan lagi hal apa saja yang (mungkin) terdapat di dalam toilet tersebut. Belum lagi bau pesing bekas konsumsi jengkol berlebih dan faeces manusia yang tercecer. Intinya sama saja, warga Jakarta belum terbiasa untuk berkorban demi orang lain, dalam hal ini: menjaga kebersihan toilet umum. Menurut saya, kalau tidak ada cleaning service di toilet umum mall, maka keadaannya akan sama saja dengan toilet umum di pasar tradisional. Menurut saya, ini manifestasi dari ketidaksadaran warga Jakarta akan apa itu ‘Etika’, yang pastinya berbeda dengan ‘Etiket’. Secara umum, pemikiran warga Jakarta sama saja, baik dari kelas sosial ekonomi atas, menengah, ataupun bawah. Yang membedakan mereka hanyalah pendapatannya, serta tingkat pendidikannya. Tapi itu semua belum tentu berpengaruh terhadap perilaku mereka. Yang berpengaruh ialah kesadaran akan keadaan orang lain, atau empati. Para penduduk Jakarta sangat butuh mengadopsi empati dalam kehidupan mereka sehari-hari, sehingga toleransi dapat tercapai. Selain itu, perilaku mengantri warga Jakarta juga sangat buruk. Menyelak antrian di tol, ngebut di bahu jalan, memotong antrian di kasir supermarket, menggunakan calo untuk mengurus dokumen, dan masih banyak hal lainnya adalah contoh kasat mata. Tidak heran bisnis calo sangat laku disini, orang-orangnya pada malas. Bagi saya, mengantri adalah salah satu bentuk dasar dari perilaku bermoral, karena hal-hal besar berawal dari hal kecil. Bagaimana mau berbuat baik, tapi hobinya mengambil hak orang lain?
Dibalik segala kekurangannya, aku tetap mencintai Jakarta apa adanya. Dengan segala pretensi dan tata kelola yang kacau, dengan kekurangajaran para alay dan premanisme di pasar dan terminal. Aku akan tetap mencintai Jakarta. Salah satu alasan utama kecintaanku adalah ke’hidup’an, atau ke’vibrant‘an dari Jakarta. Kota yang vibrant sangat mudah membuatku jatuh cinta padanya. Tengoklah Vienna, Paris, New York, ataupun Melbourne. Mereka adalah kota dengan identitas. Walaupun ada yang sepi dan ada yang padat, namun kota-kota tersebut memiliki identitas dan budayanya masing-masing. Berdiri tegak dengan kekhasannya, diterjang arus pretensi yang ditiup oleh media-media tidak bertanggung jawab. Aku tetap mencintai mereka, walaupun tidak sebesar cintaku terhadap kota kelahiranku, Jakarta, The Big Durian.
From Brisbane with love, 9th October 2011. Dedicated to my cousin who is turning 17 today, Dea Safirahilda.